Mahasiswa (keburu) Akhir : Part I
Pada tulisan kali ini, saya akan
berbagi cerita tentang pengalaman saya selama menjadi mahasiswa BKI. Oke
guys,,
Dimulai dengan drama salah jurusan
setelah lulus SMK, akhirnya semua perjuangan harus kembali dari awal.
Perjuangan untuk menjaga hati agar setia kepada BKI tentunya. Oya sebelum
terlalu panjang, saya akan menjelaskan sedikit tentang BKI untuk yang belum
tahu. BKI adalah singkatan dari Bimbingan Konseling Islam. lantas bedanya
dengan BK apa? Bedanya dari huruf I nya saja, yang berarti Islam. Jujur, sampai
sekarang pun saya masih dibuat bingung oleh kata Islam yang melekat pada
BKI. Jika ini semua tentang penggunaan
syariat atau tata cara keislaman ketika melakukan sesi konseling, tentunya
faktor keberhasilan antara BKI dan BK pun sama begitupun dengan
kegagalannya. Yasudah, kita kembali ke pengalaman saya.
Salah jurusan membuat saya dilema.
Iya, sejak SMK saya merasa sudah salah jurusan, penyebab salah satunya karena
mengikuti nasihat orangtua. Saya suka hitung-menghitung dan otomotif, ketika
SMK saya malah masuk jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) dan saat lulus
SMK pun saya kembali salah jurusan, yaitu masuk ke jurusan BK. Mungkin bagi
kalian yang tahu saya, ini dinamakan senjata makan tuan. Dulu, saya hampir
setiap tahun masuk BK bahkan sampai dipanggil oleh pihak yayasan, biasalah
kenakalan remaja. Hehe.
Saya terbilang orang yang tertutup,
cuek, dingin, dan tidak punya banyak teman. Sampai saya kuliah pun saya masih
mendapat gelar tersebut. Saya sadar mungkin ada maksud lain dari Tuhan yang
membuat saya harus masuk BKI. Iya, untuk memberikan pelajaran dan pengajaran
kepada saya yang bengal ini. Semakin hari semakin saya sadar bahwa Tuhan
memberikan sesuatu sesuai dengan porsi kebutuhan kita bukan porsi keinginan
kita. Iya semuanya tentu sudah diatur, jika kita memilih yang A maka ini yang
akan kita dapatkan, jika kita memilih yang B maka itu yang akan kita dapatkan,
semacam paket lengkap jika diibaratkan di toko ayam. Walaupun lengkap tapi
tetap saja untuk isinya diatur oleh pihak toko.
Jika ditanya suka duka saya selama
menjadi mahasiswa BKI tentu banyak. Pertama, saya menjadi lebih tau
tentang pola asuh, dulu setiap hari Senin sampai Jumat saya diasuh oleh kakek
dan nenek karena orangtua saya harus bekerja. Dari situlah terkadang saya
bingung harus menerapkan hasil dari pola asuh yang mana. Ibu saya bilang “ Jangan
pacaran teh, itu tidak baik” lantas nenek juga bilang “Boleh kalau kamu
mau pacaran, ibumu juga dulu begitu”. Setelah saya belajar tentang pola
asuh, saya jadi lebih tahu bagaimana saya harus bersikap.
Yang
kedua, tentang tugas perkembangan. Setiap anak terlahir dengan
potensinya masing-masing yang kemudian diperkuat bahkan diperlemah oleh
lingkungan. Manusia tidak hidup statis, dan setiap masa perkembangan
membutuhkan perhatian yang berbeda. Lewat BKI saya belajar semua itu. Saya
teringat sewaktu saya sekolah dulu, masih remaja awal. Emosi pun belum stabil,
kenakalan yang sering saya lakukan membuat saya bangga, dan ternyata masa
remaja adalah masa dimana pengakuan orang lain terhadap eksistensi pertama kita
timbul.
Yang
ketiga, bagaimana kita harus menyikapi masalah. Di BKI saya diajarkan
untuk fokus kepada penyelesaian masalah, bukan mencari kambing hitam atas
masalah yang terjadi. Yang keempat, bagaimana menjadi pendengar yang
baik. Terkadang ketika diminta untuk menjadi pendengar justru kita menjadi
pembicara, BKI membuat saya mengerti bahwa mendengarkan lebih baik dibandingkan
menjadi pembicara tanpa aksi nyata. Bagaimana ketika saya harus menerapkan asas
kerahasiaan, keterbukaan, teladan yang baik kepada pembicara yang sedang saya
dengarkan. Yang kelima, tetap menjadi tegar meski berkali-kali
dijatuhkan. Asyik. Hehe.
Lantas
dukanya apa, ketika dituntut untuk menjadi orang yang baik versi manusia lain.
Disaat berpapasan dengan orang lain lalu ditanya perihal jurusan kuliah dan
saya menjawab BKI, orang-orang bingung seperti apa BKI itu. Setelah saya
jelaskan mereka paham namun dari situ saya dituntut untuk menjadi orang yang
sempurna. Pernah suatu ketika, saya menerapkan hipnoterapi lalu palmistry dan
grafologi. Alhasil, saya dibilang peramal bahkan dukun. Kebanyakan dari mereka
datang kepada saya bukan untuk menceritakan masalah namun membaca karakter dan
melihat masa depan. Nah loh saya bukan Tuhan, guys!
Oke,
sekarang kita kembali ke pembahasan akan menjadi apa setelah saya lulus nanti.
Apakah menjadi guru BK? Menjadi pembimbing rohani di rumah sakit? Atau menjadi
teman curhat abang-abang napi di lapas? Atau bahkan saya akan menikah saja?
Rasanya saya tidak akan memilih itu semua. Saya ingin berkelana, menjadi
relawan mengajar di peloksok negeri tercinta, menyuapi makan anak-anak di
Afrika, ikut bertempur di Palestina,
atau meneruskan perjuangan saya di WWF, iya membela flora dan fauna serta hutan
Indonesia demi anak cucu kita. Namun, hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik
untuk saya. Terimakasih. Jangan lupa
damai. Salam lestari. Salam konselor!
Komentar
Posting Komentar